Monday, March 26, 2018

Kebahagiaan Hidup yang Sebenarnya

Assalamualaikum wr wb
Halo minna-saaan. 

Wuaaah, ohisashiburi ne!!! 

Saya sudah lama sekali tidak menulis di blog ya. Dan kehidupan saya saat ini benar-benar berubah sejak postingan terakhir saya, minna!

Mulai dari status, karir dan kesibukan saya. Semuanya benar-benar berbeda.

Saya yang dulunya sendirian, menikmati waktu dengan belajar sebagai mahasiswi, menulis blog sebagai hobi, dan membaca komik kesukaan saya yaitu Detektif Conan, saat ini bahkan sudah lupa terakhir beli komik itu di volume berapa dan saat ini sudah rilis volume berapa, semuanya sudah tidak terlalu bermakna lagi, minna.

Kenapa?

Ada hal lain yang lebih penting dalam pikiranku.

Hehehehe...

Minna, saat ini saya sudah berganti status sebagai seorang istri dengan memiliki seorang anak laki-laki yang baru berusia 1 tahun juga berkarir sebagai dokter umum di salah satu kota di indonesia timur ini.

Waw!

Begitu banyak cerita yang kulewatkan untuk kutuangkan dalam blog kesayanganku ini. 

Mulai sekitar 3 tahun lalu, saat itu saya masih berstatus "koas" dan memiliki seorang pacar yg merupakan teman SMP saya sendiri. Kisah kami yang dimulai dari pertemuan di sebuah reuni yang kemudian menjadikan saya sebagai seorang perempuan yang benar-benar kasmaran. Dan itu pertama kalinya bagi saya! 

Laki-laki spesial itupun sempat kuceritakan di postingan terakhirku, bukan? Dan laki-laki itu juga yang saat ini menjadi ayah dari anakku. 😍😳

Kami menjalani pacaran 8 bulan singkatnya yang kemudian dia berani melamarku dengan segala rintangan yang ada. Hubungan kami sempat tidak direstui karena saya yang masih menjalani pendidikan, alias belum selesai koas.

Tapi, dengan semua keyakinannya dia pun tetap ingin menikahiku. Lambat laun akhirnya orangtua saya setuju, dan kami pun menikah. Tepatnya 2 tahun yang lalu, hari Sabtu, 19-03-2016. :")



Setelah menikah kami sempat berbulan madu di Bali, ikut tren anak muda walaupun setelah dari sana, kami benar-benar menghabiskan uang yang banyak untuk oleh-oleh wkwkwk. Saya juga tidak sempat menulis di blog ini karena disibukkan dengan koas saya yang begitu padat, dengan tentunya sang suami yang setia menemani sembari dia juga mengerjakan kesibukannya.


 Bulan Mei kemudian saya mendapati bahwa diri saya hamil. Perasaan saat itu bercampuk aduk kayak nano nano. Mengapa? Karena saya masih sibuk dengan koas saya dan saya merasa tidak mampu menjalani kehamilan ini dikesibukan koas saya. Banyak ketakutan yang menggila di kepala saya. 


Foto ini waktu perut saya sudah besar sekali, sudah mau lahiran. HeheπŸ˜…

Tapi alhamdulillah, Allah swt melindungi saya dan kandungan saya dan akhirnya pada tanggal 8 Januari 2017 pukul 00.15 dapat melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat walaupun dengan proses operasi sectio caesaria. πŸ˜…

Hari-hari pun mulai berubah, setelah melahirkan, saya harus menyusui tentunya. Memperjuangkan ASI disaat kesibukan lain seperti koas ini benar-benar berat. Pumping, pumping dan pumping.

Belum lagi bangun per 2 jam sekali tiap malam untuk menyusui anak tercinta. Menjadi seorang ibu benar-benar berat tapi saya menikmatinya. Awalnya memang banyak mengeluh tapi pada akhirnya jadi terbiasa dan menikmati setiap prosesnya.

Alhamdulillah walaupun tidak sampai 2 tahun, tapi saya berhasil menyusui anak saya sampai dia berusia 7 bulan dengan segala kesibukan saya mulai dari koas, bimbingan dan ujian kompetensi kedokteran. Allah begitu sangat baik pada saya.

Dan begitu sayangnya Allah sama saya, dengan semua rintangan tersebut saya tetap diluluskan di ujian kompetensi yang paling mengerikan bagi semua anak kedokteran, yaaa UKMPPD namanya. 


Saat itu saya benar-benar bersyukur tiada hentinya, di saat waktu belajar saya yang sangat kurang, Allah swt meridhoi saya untuk lulus. Dan semua ini berkat dukungan suami, anak, orangtua, mertua dan semua yang mencintai saya.

Setelah lulus, gelar (dr.) pun sudah bisa dipasangan di depan namaku dengan keyakinan untuk mampu menjalankan semua tanggungjawab dan sumpah dokter yang telah kuikrarkan di depan semua dosen, teman, dan keluarga.

Jika kuingat kembali, semuanya berlalu begitu singkat. Ada tawa, tangis, senyuman dan kemarahan di setiap proses hidupku.

Saya bersyukur di takdirkan seperti ini oleh Penciptaku. Menikah dengan seorang pria yang benar-benar mencintaiku dengan segala dukungannya, memiliki seorang anak yang cerdas dan sehat juga dapat menjadi seorang dokter yang insyaAllah bertanggungjawab.

"Nikmati prosesnya maka kau akan melihat hasil yang indah." 

Dan saat ini, saat menulis postingan ini, saya sedang berada di sebuah klinik, mengisi dokter senior yang tidak bisa hadir, sambil menjadi dokter internsip di salah satu Rumah Sakit di kota Makassar.

Ah ya! Saya juga ingin bercerita mengenai program dokter internsip ini.

Jadi setelah kelulusan ujian kompetensi, kami dokter-dokter baru diwajibkan ikut program "isip" selama 1 tahun. Kami akan ditempatkan merata di seluruh RS daerah di Indonesia sebagai dokter isip. 

Kami diberi hak dan kesempatan untuk memilih RS apa dan dimana yang kita inginkan untuk mengabdi selama satu tahun ini. Saya, yang tentu saja punya anak dan suami yang tinggal di Makassar tentu saja mau memilih RS di kota Makassar.

Hanya saja, RS yang ada cuman 1 (haduuh), dan kuotanya cuman 15 orang yang bisa menempati RS itu. Persaingan begitu ketat. Kami diberi jadwal memilih wahana RS secara lokal dan nasional.

Ceritanya panjang sih minna, hehe..

Singkatnya, saat waktu pemilihan dimulai, dalam hitungan 5 detik, kuota lokal RS tsb penuuuuh. Saya kalah cepat.

Saya menunggu pemilihan nasional. Jauh-jauh hari mencari lokasi internet dengan jaringan tercepat yang ada di kota saya. Supaya bisa mendapatkan 1 kuota dari 15 kuota saja di RS itu.

Namun nihil, pemilihan nasional, saya gagal. Saya pun memilih RS yang ada di kab. Pangkep. 

Namun saya tidak menyerah begitu saja, untung saja yaaa program ini memberi kesempatan dengan peserta dapat mengajukan dispensasi dengan alasan yang dapat diterima.

Saya pun mencoba, dengan membuat surat pengajuan dispensasi untuk ditempatkan di RS di kota Makassar, merangkai kalimat demi kalimat dengan tujuan yang membacanya dapat bersimpati dan menerima permintaan saya. Dengan melampirkan semua bukti foto buku nikah, KK dan surat kerja suami.

Dan, alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya dan suami, lagi.

Hingga saat ini saya baru menjalani 1 bulan sebagai dokter isip (masih ada 11 bulan wkwkk) di RS di Kota Makassar sehingga masih bisa dekat dengan suami dan anak tercinta. Sembari mengisi libur yang ada dengan mengganti senior-senior saya di kliniknya. 

Semua yang kualami benar-benar berubah. Dalam 3 tahun yang singkat, saya menjadi seorang yang berbeda. 

Baca komik kesukaan saya tidak pernah lagi kulakukan,
Menulis cerpen-cerpen romantis apalagi,
Sepertinya tidak ada waktu saja.

Saat ini saya juga disibukkan untuk menjadi seorang istri dan mamah muda yang baik. Googling sana sini cari resep makanan untuk si anak yang mp-sufor.

Jadi mamah muda ataupun tua harus kuat dan tegar, galau akut saat anak tidak mau minum susu, tidak mau makan ataupun lagi sakit. Mental yang kuat dan harus cukup pintar dituntut dari seorang ibu yang bertanggungjawab. Dan saya ingin menjadi ibu yang seperti itu untuk anak saya.

Menjadi seorang istri juga berat, galau di saat suami maunya berbeda dengan maunya kita, saat suami mulai mengatur kegiatan kita, membatasi dan mengingatkan saat saya lupa dengan status saya sebagai perempuan yang sudah menikah. Bingung ya minna? Hahaha..

Maksudnya yaaa kadang hal kecil seperti jadwal jaga di koas dan teman jaga di koas harus diatur oleh suami. Walaupun awalnya tidak suka, namun akhirnya saya mencoba sadar bahwa saya adalah hak suami saya. Dan semua yang kulakukan harus diketahui oleh suami saya. Baik itu dimana, apa, dan dengan siapa. Seperti itu, minna! 😊

Hmmmm..
Rasanya cukup sekian saya nulisnya.
Semoga kisah-kisah kalian juga menyenangkan seperti kisahku.
Cukup bersabar dan berdoa juga berjuang untuk hal yang ingin kalian rasa patut untuk diperjuangkan.

Dan juga, nasehat untuk diri saya sendiri dan teman-teman disana yang membaca ini, 
"jangan ngeluh-ngeluh bae, optimis woi, optimis! Pasti bisa kok!"


Hehehehe... πŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜‚

Assalamualaikum wr wb.
Read more >>

Tuesday, October 13, 2015

My Love Story

Assalamualaikum, minna-san :)
Ogenki desuka?
Gomenne, sudah lama aku gak update blog lagi. Gegara sibuk, hiks.. T,T

Hmmm..
Kali ini, aku baru sempet nulis lagi karena kebetulan lagi koas di bagian yang santai alias jobless nih, minna. Hahaha..

Hmmm..
Postingan kali ini, postingan alay-alay gitu, yang masih bertemakan tentang ehem. Tentang sesuatu yang sulit didefinisikan, yang setiap manusia pasti pernah merasakannya, ada yang berakhir bahagia adapula yang berakhir menyedihkan.

L-O-V-E

Bagi minna yang pernah atau sering ngikutin cerita aku yang sebelum-sebelumnya, baik di blog maupun di note Facebook, mungkin sudah tak asing lagi alias sudah 'terbiasa' ngelihat postinganku yang membahas cinta-cintaan. Memang sudah jadi hobi sih wkwkwkwk.. Maklumlah, aku ini lagi suka nonton drama melow Korea atau asia yang temanya percintaan. Kenapa? Ya, selain karena tertarik dengan tampang aktor koreanya yang subhanallah ganteng sekali, akunya juga suka nge-fly sendiri dan ngebayangin kisah drama yang 'so sweet' itu terjadi dalam kehidupanku yang sebenarnya, minna. #ngenes

Naaaaah, sampai sekitar 5 bulan yang lalu, aku masih berstatuskan jomblo ngenes yang hanya bisa percaya bahwa rasa cinta yang tulus itu beneran hanya ada di drama korea. Fix, laki-laki yang benar-benar mencintai seorang perempuan itu tak mungkin ada di dunia nyata, begitu pikirku. Jahat ya. Hahaha..

Ya, begitulah minna.

Tapi itu cuman sampai 5 bulan yang lalu, sekitar bulan Mei gitu.

Setelah itu, masih di bulan yang sama, ada seseorang yang mencoba masuk dalam hari-hariku.
Dia menawarkan diri untuk membahagiakanku. Tiba-tiba saja.
Sebenarnya dia sudah masuk dalam hari-hariku, ya sebagai teman biasa, namun hari itu dengan beraninya ia meminta lebih. Sontak saja aku terkejut, lho kok? Kenapa?
Ia hanya diam, dan bingung dengan pertanyaanku. Lalu menggeleng dan menjawab, ia juga tidak tahu kenapa.
Lho apa-apaan? Begitu pikirku. Dengan harapan sih seperti drama korea yang pernah kutonton, setidaknya dia mengatakan bahwa ia mencintaiku. Hahaha..
Dia masih saja diam dan malah menuntut responku. Tapi tanpa mengalah, aku terus saja bertanya 'kenapa' dan akhirnya dia mengatakannya.
Tiba-tiba aku merasakan degupan kencang dari jantungku. Memang sih, dia bukan yang pertama kalinya yang berani mengatakan itu. Tapi, dialah yang pertama kalinya yang menyatakan langsung tanpa perantara apapun dan dia yang pertama kalinya mengatakan perasaannya tanpa menjelaskan alasan kenapa ia menyukaiku.

Hmmm...
Kuputuskan untuk menerima tawarannya, dan sejak saat itulah, minna, hari-hariku mulai berubah karena kehadirannya. >////<

Backsound: Zigas band - Sahabat jadi Cinta



Walau dulunya kami bukan sahabatan sih, cuma temenan biasa. Hahaha...

Dia...
Sampai detik inipun entah kenapa aku benar-benar bahagia karena bersamanya. Beruntung sebagai perempuan yang dipilihnya. Walau tiap kali kupertanyakan pada diri sendiri, sebenarnya apa yang istimewa dari diriku? Kenapa ia bisa memilihku? Apa dia tidak salah? Atau mungkin matanya sedang rabun hingga salah melihat tentangku?

Berkali-kali pertanyaan itu mengganggu pikiranku dan tiap bertemu dengannya akupun berani saja menanyakannya langsung. Responnya hanya tersenyum dan menjawab "sudah berapa kali kubilang, saya juga tidak tahu." Yaaa, aku masih saja sulit percaya. Karena memang, seperti yang sudah aku bilang sebelumnya kan, aku percaya 'cinta yang tulus' itu hanya ada di drama korea.

Dia...
Sebenarnya di kepalaku begitu banyak yang ingin kutuliskan tentangnya, tapi entah kenapa jadi sulit tertuang nih, minna.
Sulit tertuang dalam untaian kata-kata. Padahal kan minna aku ini lumayan berpengalaman menuliskan kalimat-kalimat manis masalah percintaan. Hahaha tidak tahulah kali ini kalimat manis tentang kisahku sendiri sangat sulit kuutarakan.
Yaaaah, yang pasti, semua kisah drama korea yang pernah kutonton, benar-benar dapat kurasakan di dunia nyataku sendiri, yang awalnya hanya rasa pesimis yang ada, yang awalnya hanya ungkapan kata-kata 'tidak mungkin' yang selalu aku umbarkan.

Yaaaah, aku hanya benar-benar merasa sangat sangat sangat spesial untuknya.

"Inikah yang namanya dicintai dengan ketulusan?"

Saat itu aku benar-benar bersyukur menjadi diriku sendiri, bersyukur bahwa Allah mempertemukan kami kembali dan menumbuhkan perasaan indah ini padanya, hanya untukku.

"Lalu, apa aku juga mencintainya?"

Meski aku memulai hubungan ini dengan perasaan sepihak darinya, minna. Aku memang jahat, minna.
Aku menerima tawarannya tanpa merasakan rasa yang sama terhadapnya.

Sampai sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu, dia mulai membuatku gila.
Intensitas wajah dan senyumnya makin sering mengganggu pikiranku.
Kesabaranku mulai teruji jika ia tak mengabariku atau menghubungiku dalam sehari saja.
Yang sebelum-sebelumnya, aku ingat betul sikapku yang acuh saja.
Yang sebelum-sebelumnya, terserah ia kapan ingin menghubungiku.

Sampai sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu itu hingga detik ini, aku yakin bahwa aku memang sudah dibuat gila karenanya.
Bagaimana tidak?

Ia hampir tiap malam sudah hadir dalam mimpiku. Aku mulai suka gelisah dan marah jika tak tahu kabarnya seharian. Aku jadi menggila manja layaknya kucing saat bertemu dengannya. Aku yang biasanya hanya memendam kisah cintaku malah jadi cerewet ke orang-orang terdekatku, bahkan kepada orangtuaku, aku tak senggan bercurhat ria tentang laki-laki ini. Makin gila lagi, aku benar-benar ingin ada dia saat aku terbangun di pagi hariku, ingin ada dia saat aku pulang dari hari dinasku yang melelahkan dan ingin ada dia yang membuatku terlelap di malam hariku. Aku ingin melakukan banyak hal dengannya, bercerita banyak hal padanya, dan menghabiskan waktu bersamanya. Aku jadi selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya misalnya dengan mengikuti nasihat-nasihat baiknya untukku (jadi kekasih yang penurut) dan selalu ingin melakukan atau memberikan sesuatu yang spesial untuknya.


Yaaaah, kali ini aku hanya merasa dia sudah sangat sangat sangat spesial untukku hingga tak mau ia kecewa secelahpun padaku.

Dia...
Aku menyukai semua hal tentangnya, sorot matanya, cara bicaranya, senyumnya, raut wajahnya, gaya berpakaiannya, cara berjalannya, sifat dan karakternya, pola pikirnya, huaaaaa aku menyukai semuanya.

Eh, tidak juga sih. Sebenarnya ada beberapa sifat yang tak kusukai darinya, tapi entah kenapa dan sejak kapan aku malah tiba-tiba memahaminya, mengerti akan sifatnya, memaklumi dan menerima dia apa adanya.

Hahaha, dulu sikapku mana mungkin semanis dan sepengertian ini. Aku hanya begini padanya. Hihi ;)

Rasaku saat ini semakin besar untuknya, aku benar-benar tidak mau kehilangannya, aku benar-benar hanya mencintai dia seorang dan ingin bersamanya. Alay ya, minna? Hahahaa..

Tapi sungguh, aku benar-benar merasakan itu, minna. :')


Tulisan ini kudedikasikan untuk kamu yang terspesial untukku.
Untuk kamu yang berinisial huruf paling terakhir dalam abjad Indonesia. Dan semoga menjadi yang terakhir bagiku juga.
Dari aku yang berinisial huruf paling pertama dalam abjad Indonesia. Yang katamu memang akulah yang pertama mengisi hatimu.

Semoga memang hanya kamulah yang terakhir bagiku.

Ingin menjalani hari-hariku denganmu.
Ingin berbagi tawa dan tangis bersama, dipelukanmu dan dipelukanku.
Menemanimu, menemaniku.
Menggapai impianmu dan impianku.

Meskipun huruf A dan Z terpisah oleh 24 huruf diantaranya, aku akan menujumu dan aku harap kamu pun seperti itu. ;)

Semoga Dia Yang Maha Mengabulkan Doa, dapat mendengar impian indah kita.
Aamiin. :)

Benar-benar berterimakasih pada-Nya yang mempertemukanku dengannya. Alhamdulillah. :')

Kamu, terimakasih masih betah bersamaku, semoga selamanya kan tetap seperti ini. Hihii #amatsangatbahagia

End~~~~

Arigatoune, minna yang sudah repot-repot baca curhatan aku yang super duper alay nan bikin mual muntah ini hahahaa..
Semoga minna yang masih sendiri segera diberi petunjuk dan dipertemukan dengan si dia yang spesial. Hihi.

Assalamualaikum :)
Read more >>

Wednesday, January 21, 2015

Akhir dari Mahasiswi Tingkat Akhir

Assalamu'alaikum :)

Hallo minnasan.

Masih ingat sama saya? Ah saya saja sudah lupa seperti apa Ai yang dulu.
Sepertinya cukup banyak yang berubah ya, minna.

Ai yang dulu hampir tiap minggu update blognya. Ai yang dulu hampir tiap minggu nulis sesuatu.
Ai yang dulu juga hanya punya satu hobi tetap yang gak pernah lupa dilakukannya yaitu baca komik Detektif Conan. Ai yang dulu selalu nulis di note facebook. Ai yang dulu selalu aktif di grup detektif, selalu join memecahkan kasus-kasus di facebook, walau hanya sebagai detektif jadi-jadian.

Semenjak masuk kuliah, semua hobi dan kebiasaan itu bertahan hingga saya masuk semester ketiga (kalau gak salah ingat).

Minnasan, sesuai judul tulisan ini, yaaap!!!
Saya sudah berada di tingkat ini, "tingkat akhir" dari sebuah perjalanan paaaaanjaaaang yang diberi nama "KULIAH". *horror*

Ya, kuliah cukup banyak mengambil peran dalam merubah kebiasaan-kebiasaan saya. Terutama masuk semester empat hingga detik ini.

Setelah melihat beberapa postingan saya, sepertinya saya tak pernah sekalipun menceritakan kehidupan perkuliahan saya, Maaf ya minna. --"

Bukan karena sok sibuk, tapi memang semasa duduk di bangku kuliah ini, saya benar-benar dibuat sibuk, beda bangetlah dengan sekolahan. Meskipun kuliah merupakan bagian dari "sekolah".

Mulai dari semester pertama hingga semester terakhir, jam masuk kuliah saya sama seperti anak sekolah SMA. Semuanya kuliah pagi dan pulang hingga sore hari jam lima sore. Setiap hari seperti itu. Walau dalam seminggu kami hanya kuliah selama lima hari.

Bukan hanya kuliah, kami juga diberikan tugas-tugas dan laporan praktikum. Saya bahkan pernah tak tidur untuk menyelesaikan semua itu.

Karena jenuh, saya memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda. Saya tak mau masa kuliahku akan habis bersama bahan kuliah, tugas dan laporan saja.

Saya mulai mendaftarkan diri jadi asisten dosen, coba mengikuti organisasi yang paling sibuk di fakultas saya, dan juga mengikuti kajian-kajian islam seperti bertarbiyah (walau sebenarnya jarang hadir juga).

Ya, kira-kira di semester lima saya mulai aktif berstatus sebagai asisten dosen (Alhamdulillah diterima), dan anggota organisasi (Alhamdulillah lolos).

Kehidupan masa kuliah saya semakin sibuk dan penuh warna. Saat mengetik tulisan inipun saya merindukan kesibukkan itu. Kesibukkan yang membantu saya mengatur waktu saya, membuat saya belajar yang namanya "time management" sembari menyeimbangkan sisi akademik dan non akademik saya.

Semenjak itulah, kebiasaan-kebiasaan lama saya yang telah kupaparkan sebelumnya mulai memudar dalam keseharian saya. Saya kini hidup dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebiasaan baru yang paling berdampak "addicted" adalah mendownload dan menonton hingga tak tidur drama-drama Korea dan Jepang. Huaaaa

Hari ini, beberapa jam yang lalu nilai mata kuliah terakhir saya diumumkan, dan saat itu saya sedang menonton drama "Birth of Beauty". Apa-apaan --"

Meski punya kebiasaan baru yang entah baik atau buruk itu, saya tetap berterimakasih. Karena selama ini saya hanya terhibur dengan melakukan itu. Asal minna tahu, saya sulit menemukan sesuatu yang membuat saya nyaman.

Meski punya kebiasaan baru yang entah baik atau buruk itu, meski disibukkan oleh urusan organisasi dan tugas sebagai asisten dosen, syukur Alhamdulillah, nilai-nilai kuliah saya tak begitu mengecewakan. Allah tidak memberikan dampak jelek ke nilai kuliah saya. Itu yang sangat saya syukuri. Sepertinya kekuatan doa orangtua saya benar-benar hebat. Alhamdulillah. ;)

Sebelum nilai mata kuliah terakhir saya keluar, saya bertekad akan mengembalikan kebiasaan-kebiasaan lama saya. Semoga tekad saya bisa teraplikasikan. hahaha

Huuuuuuuuuufffffftttt!
Benar-benar lega rasanya sekarang ini.

Satu perjalanan kini telah selesai. Masa baru, cerita baru, dan perjuangan baru yang lebih panjaaaaang sudah ada di depan mata. Ini baru awal, Ai!

Kini saatnya mengeluarkan semua ilmu yang pernah saya dapatkan semasa duduk di bangku kuliah, kalau tak begitu maka perjuangan 3,5 tahun saya di kuliah akan sia-sia, bukan? Hahahaaa.

Kini saatnya saya harus mengakhiri masa kuliah saya yang telah diwarnai oleh saudara seangkatan hydroxyproline, teman sesama asisten bagian fisiologi, dan saudara seorganisasi TBM 110, IPA, FORSIK dan HMI.

Terimakasih ya.
Kita tak benar-benar berakhir, tapi kan bertemu di tempat yang berbeda, suasana yang berbeda dan tanggung jawab yang berbeda.

Terimakasih untuk hari-hari yang sibuk selama 3,5 tahun ini.
Terimakasih untuk berbagai tawa dan tangis selama 3,5 tahun ini.
Terimakasih untuk semua cerita yang kan menemani di hari tuaku nanti.
Terimakasih untuk rasa "diam-diam" ku kepadanya mulai semester pertama hingga masih bertahan sampai saat ini. *apasih* hahahaha..

Meski sebenarnya ada rasa sedikit kecewa karena beberapa target yang tak tercapai.

Dulu saya bermimpi untuk kuliah sambil kerja di luar sebagai tutor atau apapun itu *yang penting halal*.
Ini tak tercapai, sebenarnya bisa namun saya yang tak serius mengambil kesempatan. Terakhir beberapa bulan lalu, tiba-tiba ada rasa minder saat ditawarkan jadi tutor matematika, takut mengajarkan pelajaran yang salah saja, sebab sudah lama saya meninggalkan pelajaran kesukaan saya itu. Sudah lama tak menyentuh matematika.
Ya sebenarnya, saya tahu saya bisa melakukan yang terbaik dengan mulai membaca kembali, mereview kembali, saya yakin saya bisa. Hanya saja, entah kenapa "kemauan jadi tutor" itu tiba-tiba memudar.

Dulu saya bermimpi untuk mengikuti semua ajang pendaftaran beasiswa semasa kuliah. Ya, minnasan, saya kuliah di fakultas yang menuntut banyak biaya apalagi di universitas swasta ini. --"
Ini juga tak tercapai, saya tak begitu agresif mencari beasiswa, saya terlalu hanyut dengan kesibukkan saya. Huft.

Dan kini saya hanya bisa mengangkat bendera putih untuk kedua mimpi itu. Mimpi yang akan tetap jadi mimpi. Saya tak mungkin mengulang masa kuliah saya.

Tapi kedua mimpi itu akan tetap kuperjuangkan di masa yang akan datang ini, di perjuangan yang sekarang tepat berada di depan mataku ini. Ya, di dunia klinik perkoasan.

Walau cerita senior dunia itu sangat mengerikan, seolah tak ada waktu untuk tidur, saya akan tetap memperjuangkan mimpi saya itu.

Hmmmmm....
Baiklah minnasan, sepertinya saya sudah banyak menulis ya. Cerita yang membosankan, bukan?
Mungkin ya bagi yang membacanya, *maaf deh*

Tapi minna, cerita di atas sangat berarti bagi saya. Sebab semua paragraf di atas seolah resume dari kisah kasihku di bangku kuliah. Resume yang mungkin kan membuatku tertawa atau meneteskan air mata kelak di hariku yang lebih tua, kelak di saat saya sendirian, kelak di saat saya merindukan orang-orang yang menemani dan mewarnai kisahku ini 3,5 tahun lamanya.

Doakan kami sukses ya, minna!
Doakan kami bisa jadi dokter yang hebat, jadi dokter muslim seperti cita-cita universitas kami (Universitas Muslim Indonesia).
Meski perjalanan untuk menjadi seorang dokter masih lamaaaaa, doakan kami dapat bertahan ya minna. Agar kami dapat mengemban amanah, menolong sesama, dan dapat menjadi pahala di mata Allah swt. Aamiin

Terimakasih minnasan. Hahahaha.

Assalamu'alaikum :)
Read more >>

Thursday, August 22, 2013

Tulisan Lama Sang Pengecut

Halo, minna-san.. Ai ketemu tulisan ini yang kupikirsudah kuhapus, ternyata masih betah tersimpan di file penuh penat laptop saya. Tulisan ini cukup usang, 30-08-2012 pukul 22.49. Sudah hampir setahun. telah banyak yang berubah, tapi tetep sedih baca tulisan saya. Rasanya campur aduk sekali pikiran saya kala itu ya. ;')

----
Ini cerita dari seorang anak perempuan yang sudah mulai beranjak dewasa dan mulai memenuhi pikirannya dengan sebuah pertanggungjawaban besar yang harus ia lakukan sebagai seorang anak yang alhamdulillah masih memiliki kedua orangtua.

Ya, aku tidak pernah berpikir menjadi seorang yang seperti ini, seorang yang pecundang.

Kalimat barusan cukup menggambarkan secara menyeluruh akan rentetan tulisan macam apa yang akan kalian baca selanjutnya di bawah ini. Jika kalian berkenan, silahkan dilanjutkan.

Aku selalu melakukan yang terbaik sejak aku TK sampai kini usiaku akan berkepala dua jika aku beruntung sampai tahun depan.

Namun, nasib yang membawaku selalu menjatuhkanku, semua ini tak pernah sesuai dengan inginku.

Aku tak pernah bermimpi untuk sekolah di sekolah swasta yang selalu dipandang sebelah mata, tapi takdir selalu membawaku menjadi bagian dari sekolah yang tak kuinginkan itu.

Begitupun memasuki SMA, aku juga tak pernah mengharapkan kegagalan itu terjadi lagi, namun takdir mengharuskanku untuk merasakan sekolah swasta lagi.

Aku muak.

Tiap kukeluhkan semuanya, respon sekitarku hanya diam, mereka menghiburku dengan kata-kata yang sudah ribuan kali terdengar, “ini rejekimu..”

Menyebalkan.

Saat masuk kuliahpun aku memang berangan-angan lulus di fakultas kedokteran, tapi di universitas NEGERI, perlu kutekankan sekali lagi? AKU INGIN UNIVERSITAS NEGERI!

Menyedihkan? Kalian boleh tertawa.

Tapi, sekali lagi, takdirku berkata lain. Ya, aku memang lulus di kedokteran, aku mensyukuri itu, tapi... yaa, di universitas swasta. Kali ini aku tak perlu menekankannya.

Hei, hei.. bukannya aku tidak bersyukur! Aku bersyukur sekali. Dapat kuliahpun sudah kebahagiaan yang luar biasa. Tapi, banyak pikiran pesimis yang menggerogoti rasa percaya diriku.

Aku mulai memikirkan, berapa biaya yang harus orangtuaku keluarkan untukku hingga kelak aku dapat mengenakan jas putih suci itu dengan sebuah kepantasan. Kalian tahu kan, biaya kedokteran di universitas negeri saja sangat mahal, apalagi swasta!

Aku mulai memikirkan tentang masa lalu. Masa lalu? Ya, aku memikirkan besar pengorbanan orangtuaku dalam membiayai kehidupan sekolahku yang ‘terus-menerus’ di sekolah swasta.

Aku juga memikirkan, pengorbanan ayah yang dengan giat mencari uang demi kelangsungan bimbingan belajarku dulu saat menginjakkan kaki di kelas XII SMA, yah hanya satu tujuan beliau, “ANAK INI DAPAT LULUS DI FK PTN”

 Jika memikirkan semua itu, rasanya aku ingin segera mati. Ya, agar mereka tak semakin merasa sakit karena memiliki pecundang sepertiku. Agar mereka tidak malu terus-terusan merawat orang tak berguna sepertiku.

“Yang namanya orangtua, pasti ikhlas menerima keadaan anaknya.” Benar, bisikan itu memang benar.

Tapi, aku yang belum merasakan menjadi orangtua ini, tentu tak mengerti. Yang ada dipikiranku hanya pikiran-pikiran untuk menyerah dan tak ingin menyusahkan kedua malaikat itu lebih jauh lagi.

Mereka sungguh sangat keterlaluan baik.

Kedua malaikat itu sungguh sangat keterlaluan menyayangi anak bodoh sepertiku.

Mereka sungguh sangat keterlaluan..

Aku tidak mungkin bersikap seolah tak ada yang terjadi. Seolah tingkahku selama ini sama sekali tidak ada yang dirugikan. Tidak mungkin. Aku cukup tahu diri.

Ya, aku cukup dewasa hingga tahu diri mengenai kegagalan-kegagalan yang memalukan yang selalu kuraih. Kegagalan yang dapat mencatat rekor dalam buku keluargaku.

Sekarang aku benar-benar terpuruk, merasa sangat menjijikkan. Merasa sangat tidak berguna.

Ada banyak hal lagi yang benar-benar menjadi sebuah bukti bisu yang mengakui betapa pecundangnya aku. Namun, aku mungkin hanya dapat menorehkannya sedikit. Aku takut air mataku bisa menetes karena ini, hal itu dapat menambah bukti lagi betapa selain bodoh, tidak berguna, dan pecundang, ternyata aku juga LEMAH. Hal itu dapat menunjukkan betapa lemahnya gadis tengik yang sedang mengetik tulisan ini.

Aku tidak selemah itu sih, hanya pada saat-saat tertentu lamunan biasa yang tak kusadari, memaksa memutar otakku untuk mengingat masa-masa menyedihkan itu. Masa-masa kegagalan yang tak seorangpun pernah bermimpi untuk dapat juga merasakan hal yang sama.

Jika kalian melihat kehidupan nyataku,kalian akan berpikir, “ah, Ai ini berlebihan mengenai penderitaannya.”

Hmmm... ya, ada beberapa faktor yang kuduga kalian akan menarik kesimpulan seperti itu.

Faktor pertama, karena dalam kehidupan sehari-hari, aku seorang perempuan yang cukup humoris. Aku senang membuat orang sekelilingku tertawa walau aku harus berpura-pura dungu sekalipun. Sikapku yang seperti itu akan membuat kalian berpikir bahwa aku tak mungkin mengenal penderitaan, tangisan atau apalah semacamnya yang terlihat menyedihkan. Ya, humoris seperti itu kulakukan karena hanya dengan cara itu satu-satunya agar pecundang ini mempunyai teman, agar teman-teman dunia nyataku tak malu memperkenalkanku sebagai temannya.

Faktor kedua, tidak bermaksud sombong, tapi orang-orang terdekatku kadang mengatakan bahwa aku adalah orang beruntung karena bisa memperoleh nilai diatas standar pada beberapa ujian. Satu-satunya keberuntungan yang kumiliki itu akan membuat kalian mungkin berpikir bahwa aku tak sebodoh seperti yang kuceritakan sebelumnya. Karena aku yang selalu merasa bodoh bahkan sampai menyebut diriku ini pecundang, bodoh karena tak satupun sekolah negeri menerimaku di sana. Aku tekankan, ‘keberuntungan’ dan ‘kepintaran atau kecerdasan’ adalah sesuatu yang berbeda. Semua keberhasilan yang kuperoleh hanya sebuah keberuntungan.

Ya, kadang takdir berpihak padaku, memberi keberuntungan padaku, walau hanya pada saat aku menjalani proses pendidikan di sekolah/universitas. Keberuntungan itu tak pernah kurasakan saat mendaftar masuk di sekolah negeri. Aneh, bukan? Aku meraih prestasi di SMP, begitupun di SMA, tapi saat daftar masuk SMA maupun universitas, aku seperti orang yang sangat amat bodoh hingga sepertinya tidak pantas untuk sekolah di sekolah negeri. Itu yang kalian sebut kepintaran? Jujur, aku sendiri bingung, muak pada diri sendiri. Sampai akhirnya dulu aku berpikir bahwa keberuntungan, prestasi dan takdir ini... SEDANG MEMPERMAINKANKU. Beberapa tulisanku sebelumnya juga telah membahas ini.

Aku tidak bermaksud memaksa opini kalian untuk berpendapat bahwa akulah yang paling menderita, akulah yang paling menyedihkan. Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya ingin kalian mempercayai ceritaku tanpa mengasihaniku, aku ingin membuang tumpukan kegagalan ini, sekarang adalah masa-masa sulitku, sedang merasakan puncak keletihan menjalani kehidupan. Aku ingin bisa hidup normal tanpa pikiran-pikiran hitam yang berputar-putar di kepalaku ini.

Tapi selalu saja, bayangan kedua orangtuaku ada di sana. Bayangan yang muncul adalah bayangan wajah mereka yang tampak kecewa begitu dalam kepadaku. Yah, bayangan inilah yang menjadi pupuk dasar hidupnya pikiran pesimis yang kini kian membesar dan menyesakkan ragaku. Bahkan semakin menyesakkan lagi, apabila kudapati diriku tertunduk malu akan kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi padaku hari demi hari dalam dunia kampus. Juga semakin menyesakkan hingga rasanya ingin mati, apabila kudapati kedua orangtuaku sementara mengernyitkan dahi memikirkan bagaimana caranya mendapatkan lauk yang akan menemani sepiring nasiku juga saudara-saudaraku. Aku sering mendapati mereka yang seperti itu dalam keheningan. Walau mereka merasa bahwa mereka berhasil menyembunyikannya dengan bersikap ceria di hadapanku juga di hadapan saudaraku. Tidak ayah, tidak ibu... kumohon, jangan menampakkan wajah itu dibalik tubuh anak-anakmu, aku tersiksa perlahan karenanya. Bahagialah, kumohon!

Juga penyiksaan yang begitu dalam dan yang amat tajam menyeruak batinku, apabila mengingat apa yang sementara kujalani ini. Yaa.. bukankah aku sedang kuliah di kedokteran universitas swasta? Bukankah dengan kuliah di dunia kesehatan ini, aku dapat membahagiakan orangtuaku? Tapi, apabila mereka, kedua malaikatku itu ditakdirkan pergi lebih dulu dariku, lalu bagaimana denganku? Misiku untuk membahagiakan mereka dengan menjadi seorang dokter yang pantas di hadapan mereka, bagaimana? Bisakah aku mengenakan jas putih suci itu tepat waktu? Atau bahkan tak bisa kulanjutkan misi suci ini? Ya Allah, aku sampai gemetaran karena takut memikirkannya, aku mohon, biarkan mereka tetap hidup dengan sehat dan melihatku sebagai anak yang juga bisa diandalkan. Anak yang akhirnya bisa mereka banggakan. Sekali saja. Sekali saja aku ingin mereka benar-benar bahagia dengan apa yang kuraih dengan tanganku sendiri. Kebahagiaan yang bisa bertahan lama, bukan hanya dalam sejam, dua jam atau sehari. Kebahagiaan yang tak punya tenggang waktu tertentu. Walau berat dan terlihat mustahil, tapi aku ingin melakukannya. Sungguh.

Aku berharap, impian besarku yang satu-satunya masih kupertahankan ini, bisa tercapai..

Bisa kugenggam..

Dan bisa kuraih, sungguh bisa kuraih.. dengan kepantasan bersama tanggung jawab yang seharusnya.

Kali ini, biarkan aku mempertahankan ini, aku mohon Ya Allah. Aku rela bekerja paruh waktu jika itu mungkin, untuk membiayai kuliahku. Akan kulakukan apa saja yang masih dalam garis halal. Aku sudah terlalu sering menyusahkan dan mengecewakan kedua malaikat suci ini, tak pernah membuat mereka benar-benar bahagia.

Aku ingat, sejak SMA bahkan sampai sekarang, beberapa kali aku mencoba membantu dengan menabung uang jajan yang tak pernah mereka lupa berikan padaku tiap pagi. Ya, aku bahkan tidak makan seharian di sekolah / kampus hanya untuk menabung. Kugunakan uang itu untuk membelikan buku pelajaran / diktat kuliah. Beberapa kali kulakukan hal itu hingga akhirnya orangtuaku tahu dengan sendirinya. Padahal sudah kulakukan dengan sangat baik, benar-benar secara diam-diam. Rahasia menabung diam-diam ini kusembunyikan serapat mungkin hingga airpun tak dapat menembusnya, hingga cahayapun tak dapat melewatinya. Namun, tetap saja mereka dapat mengetahuinya entah bagaimana caranya. Kemudian mereka datang padaku dan memarahi sekaligus melarangku untuk melakukan hal yang mereka sebut bodoh ini. “Jangan lagi lakukan hal bodoh yang menyusahkan dirimu sendiri. Kalau kau sakit, bagaimana?” Kurang lebih seperti itu cara mereka mengartikan usaha menabung diam-diamku ini. Aku hanya mengangguk mengiyakan walau sebenarnya hatiku menolak.

Aku tak sepenurut itu, aku tetap melakukannya jika aku ingin. Kubatasi keinginanku akan suatu barang dan kubatasi rasa laparku di sekolah / kampus dengan coba melakukan hal lainnya. Dan itu berhasil membuat berat badanku turun hingga membuatku semakin kurus. Lagi-lagi, aku ketahuan mereka, kedua malaikatku.

Selain menabung diam-diam, aku juga menolak semua permintaan ibu yang menyarankanku untuk membeli sepatu baru, ransel baru bahkan ia pernah berpikir untuk mengganti kacamataku. Aku mati-matian menolak semua tawaran yang menurutku hanya membuang-buang uang saja, walau rasa ingin memiliki semua itu pernah terbersit dalam anganku.

Obsesiku untuk membantu keuangan keluarga membawa dampak besar dalam kehidupanku sehari-hari. Bahkan tak jarang aku menegur adik yang terkadang meminta sesuatu yang baru dari ibu. Aku menegurnya tepat dihadapan ibuku dan ibu hanya terdiam bisu melihat sikapku. Hingga suatu hari obsesi ini membuat adikku melewati batas, ia menyindirku tajam. Ibu melihat kami, dan tanpa kuduga, ibu mengangguk nyata akan pendapat adik keras kepala ini. Ibu lebih menyetujui sindiran adikku terhadapku.

Aku kesal hingga coba menjauh dari mereka. Kubawa mataku bersama tubuh ini menikmati angin di senja hari, merasakan terpaan lembut yang sekilas pergi. Dengan harapan, angin itu membawa kekesalanku ikut pergi bersamanya, hanyut di udara senja. Kumanjakan mata ini dengan menikmati pantulan warna senja, coba mengosongkan pikiranku dan menganggap tidak ada sesuatu penting yang telah terjadi. Lantunan melodi Jepang coba kusiulkan beberapa kali. Semuanya kulakukan untuk menenangkan raga dan batin ini.

Hingga tanpa sadar, tatapan kosongku berubah tajam, langit senja kutatapi dengan penuh pemikiran, alisku saling bertautan, dan aku mendengar ada bisikan kecil yang hampir tak terdengar, bisikan ini sedikit membuatku kesal, tapi rasanya..., ia benar.

“yaa, Ai, kau terlalu berlebihan. Bukannya membantu keuangan keluarga, malah menukar hubungan keharmonisan keluargamu dengan tumpukan uang yang kau obsesikan. Apa gunanya jika tak bahagia? Kau merusak semuanya.”

Hmm... kupeluk lututku seerat mungkin, menenggelamkan wajahku diantara lututku, air mataku jatuh, rasa penyesalan itu datang lagi. Dan lagi-lagi aku merasa tak berguna, apa yang kulakukan tak pernah berjalan mulus, selalu saja meleset dari tujuan yang sebenarnya. Inilah kenapa aku merasa pecundang yang bahkan tak pantas disebut pecundang. Jauh lebih rendah dari itu. Berlebihan? Memang terdengar berlebihan, ini hakku untuk memaki diriku sendiri.

Tuhan yang Maha Melihatku sedang mencaci diri sendiri, aku makhluk ciptaan-Mu yang mengharap cinta-Mu Ya Allah, memohon ampun dari-Mu atas semua luapan emosiku. Ampuni hamba, hamba juga benci rasa pesimis ini. Hamba juga benci sikap hamba yang terlalu menyalahkan apa yang telah hamba jalani atau yang seharusnya hamba jalani. Tapi, hamba tidak tahu caranya untuk keluar dari sini.

Kalian yang membaca ini, tolong bantu saya keluar dari kerapuhan yang melewati batas ini. Atau jika tidak, setelah membaca tulisan ini, tolong jangan menegurku saat kita bertemu di dunia nyata. Aku terlalu malu untuk memperlihatkan wajahku setelah mengungkap semua kisah menyakitkan ini. :’(

Hmm, sudahlah.. aku terlalu cerewet, terlalu banyak cerita tentang masalah pribadi yang tak seharusnya kulibatkan kalian yang membacanya. Walau sebenarnya masih ada yang ingin kutumpahkan, tapi sekali lagi, karena aku tak ingin air mataku juga ikut tumpah jauh lebih banyak dari yang ini, lebih baik kuhentikan saja dengan kalimat terimakasihku yang terdalam untuk keberanianku mengetik semua ini dan untuk kalian yang membacanya:

“Baiklah.. cukup sampai di sini, setidaknya aku merasa sedikit lega karena telah membuat beberapa lembar celotehan yang cukup mengganggu pikiranku beberapa hari ini. Terimakasih telah membaca. Akan jauh lebih baik lagi jika kalian menyarankanku sesuatu. Aku akan menghargainya. Hmmm, satu senyuman untuk kalian walau sebenarnya keluar bersama beberapa tetes air mata yang mulai mengering.
^__^”

----

Hmmm... payah ya tulisan saya, benar-benar pecundang. Setahun yang lalu, rupanya saya sudah sejauh itu, sejauh isi tulisan saya, pasti sangat menyedihkan penampakanku dulunya.

Sekarang ini, isi tulisan itu rasanya masih sama. Walau ada perubahan-perubahan kecil yang lebih baik :)
Read more >>

Friday, April 12, 2013

My Ideal Type and I am

Holaaa.. pas gali-gali postingan lama, Ai nemu tulisan yang isinya tentang saya dan gimana-gimananya saya. Tulisan itu udah lama sekali, minnasan. Mana alay pula ketikan saya tempo itu. u,u

Kali ini iseng aja mau nulis lagi :) but tetep, seorang wanita punya rahasia. So, gak akan semuanya saya tuliskan di sini. Minnasan pernah dengar, "A secret makes a woman woman" hihihi, itu kalimat keren yang keluar dari mulut Chris Vineyard atau Vermouth di manga Detektif Conan. :D
Tapi jangan diketawain xD

Eheeem.. uhuk uhuk

Nama saya Ainil Maksura, orang-orang panggil saya Ai. Ada juga yang manggil Ainil, ada juga yang manggil Maksura xD
Khusus dalam keluargaku, saya dipanggil Ira. Kepanjangannya? Iiiii, RAntasaaaa. Wkwkwk, itu kata kakakku. Yang pasti saya gak ngizinin orang selain anggota keluargaku panggil saya Ira :)

Baru juga nama udah beribet yaaa, saya emang ribeeet u___u

Hmm, lanjut!

Usiaku udah hampir berkepala dua, mata saya juga dua *eh
Mata saya yang dua ini gak normal, jadi pake kacamata buat bantu lihat wajah-wajah ganteng 8-)
Yep, mata kanan saya -3, mata kiri saya silinder 2,5. Kasian banget mata saya kayak orang juling xD
Saya yang kebetulan bergulat di bidang kesehatan tahu-tahulah tentang mata saya ini. xD

Dari mata, turun ke hidung. Wkakak.
Hidung saya, hmmm... gatau -.-
Bibir saya, hmmm... gatau juga.
Yang pasti dari semua yang menghiasi wajah saya, saya paling suka sama mata, alis, bibir dan gigi saya xD

Lanjut!
Hmm, saya termasuk pendek, berat badan rendah, tapi IMT/BMI saya normal loh *_*

Saya berjilbab tapi gak suka gaya-gayain jilbab kayak hijabers itu -__-
Saya simple aja sih, yang penting saya nyaman aja.
Tapi, mengenai jilbab, saya gak pake jilbab kalo belanja ke warung sebelah rumah atau ke alfamart di samping rumah atau juga kalo disuruh jagain PS3. Astagfirullah ><

Hmmm, saya hobi sekali nonton drama dan film Asia (Korea dan Jepang). Kalo barat? Nooooo! Why? Banyak "itu" nya xD hahaha.

 Karakter saya...
Hmm, kata orang saya ini kekanak-kanakkan, kadang dewasa, suka bikin ketawa, kadang pendiam, polos dan kadang heboh.
Apa iyya? *nanya diri sendiri lewat cermin*

Yang pasti, saya emang suka lucu-lucuan supaya temen saya ketawa dan seneng walau ujung-ujungnya saya keliatan kayak orang bego :)
Yang pasti, saya memang kadang pendiam kalo berada di situasi atau daerah bukan kekuasanku dalam artian kalo saya berada dalam suasana baru :)
Yang pasti, saya memang kekanak-kanakkan, suka manja-manja sama orang di sekitar saya, atau memang cara saya menyikapi sesuatu itu gak ada dewasa-dewasanya -.-
Tapiii, saya akan sekejap berubah jadi anak remaja dewasa ketika dihadapkan masalah kuliah atau masalah keluarga :) Kadang saya bisa jadi pemimpin meski gak ada yang minta.

Saya ini juga sulit mempercayai orang, jadi walaupun keliatannya saya akrab sama banyak orang, belum tentu saya percaya ke mereka semua. :)
Karena kadang ada yang dekat sama saya untuk manfaatin saya aja xD

Saya ini cewek jelek yang malas mandi, gak bisa masak kecuali mie dan telur, dan gak bisa mandiri meski saya udah coba berkali-kali. I cant without watashi no kazouku desu. xD
Kata kakak saya yang cewek, orang seperti saya kayaknya bisa berubah kalo udah punya cowok. Entah apa maksudnya.

Saya juga suka sekali baca komik, kartun dan browsing.
Saya suka hujan, laba-laba dan main piano/pianika/keyboard. *nyambung ke mana ini ya*
Saya suka hal-hal yang menantang dan memancing saya mengasah otak :)

Saya paling gak bisa bangun tengah malam walaupun dulu udah ikut padanglampe, sekarang di rumah saya gak bisa banget. alarm gak mempaaaan. :'(
Karena saya gak bisa bangun tengah malam alhasil saya gak pernah belajar tengah malam dan sholat lail lagi walau dulu sering dan pernah sholat lailnya di padanglampe. Saya suka sedih kalo ingat kepayahan saya yang satu ini. :'(

Waktu SMA, saya suka mata pelajaran yang menghitung kayak matematika karena semuanya nilai pasti, jadi kalau "salah" ya "salah" gak ada kata "mungkin". :)
Sayangnya kuliah ini, sangat jarang pakai rumus matematika lagi :')

Dulu, saya ini saya tidak suka pelajaran biologi. Tapi ternyata setelah masuk dunia kesehatan yang isinya ada yang pernah dipelajarin waktu SMA pelajaran iologi, saya jadi heran sendiri, kenapa dulu saya gak suka biologi? xD

Hmm, saya orangnya suka mengekspresikan apa yang saya rasakan walau ada juga yang sering saya sembunyikan (kalo udah private banget). Ekspresi saya sering kutuangkan lewat blog ini, status fb, twitter atau heroscoop (yang ini kalo tentang masalah kuliahan). Minnasan, join ke heroscoop gih, tuh ada info tentang cara join hero di sebelah kiri ;)

lanjuut!
Masalah asmara, jujur sejujur-jujurnya...
Saya belum pernah pacaran ><
Hahaha, jadi gak tahu rasanya punya pacar.
Tapi tapi tapi, saya pernah ngerasain jatuh cinta loh >///<Di SMP, di SMA dan sekarang kuliah.
Sudah tiga kali, tapi semuanya hanya kupendam saja tanpa pernah kuungkapkan, gak berani sayaaa.
Bukan gak lakuuuu wuwuwu..
Saya hanya ingin pacaran sama cowok yang saya cintain dan cintain saya. (y)

Hmmm, apalagi yaa.
Sepertinya cukup sampe situ saja tentang saya.

Sekarang tentang my type, sesuai judul postingan ini.

my type atau cowok tipe idaman saya.
Hmmm, semua cewek pasti pengen punya cowok yang perfect. Tapi sayangnya gak ada yang perfect xD
Tapi seandainya boleh ngarepin yang perfect, saya sangat mengidamkan cowok kayak Shinichi Kudou tapi ditambah sholeh ><

Minnasan tahu dong ya Shinichi Kudou? o.O
Tinggi, putih, gak gemuk gak kurus, cerdas, cakep, keren, cool, berani, setia, baiknya tulus, kaya apalagi kalo ditambah dianya sholeh. Huwaaaa.

Saya bakal jadi wanita yang paling bahagia kalo dicintain cowok kayak dia n___n *eh siapa eloooo, Aiiii* #gubrak

Tapi, karena gak mungkin ada yang begitu, jadi tipe saya yang lain ya seperti ini:

Mencintai apa adanya saya
Setiaaa
Sholeh, rajin ibadah *supaya saya juga dimotivasi rajin ibadah*
Ganteng
Gak gemuk, gak kurus, gak berotot besar (nyeremin sih)
Tinggi dari saya
Putih-hitam manis
Pintar
Humoris
Pengertian
Punya duit gak mesti kaya raya kayak miliarder xD
Gak pelit
Baik, ramah dan penolong
Cool, berani, percaya diri
Rambut dan gaya berpakaian yang sopan dan rapi
Cara bicara yang santai tapi santun
Lebih muda atau seumuran sama saya
Suka olahraga bola dan bisa main alat musik kalo bisaaa ><
♥Gampang akrab sama orang-orang
♥Disukain sama orangtua dan keluarga saya

Hahahaahaha, banyak banget. Kalaupun ada cowok yang kayak gitu, mana mau juga dianya tertarik sama saya yang jelek ini yah. Pede amat saya. xD
Tapiiii, saya udah bertekad, kalo ada cowok yang lebih baik dari saya, saya pasti akan berubah untuk dia. saya akan ngelakuin apa aja buat dia. Karena sebelumnya saya pasti udah percaya sama dia. ><

Hahahaa.. yasudahlah.
Terlepas dari semua itu, ya namanya juga manusia boleh merencanakan, Allah yang akan memutuskan. Jadi, jodoh saya yang seperti apa, hanya Allah yang tahu :)

Yang pasti, saya pernah dengar, jodoh kita itu gak jauh beda dari kepribadian kita. So, sebelum bertemu dengan jodoh saya, saya harus jadi lebih baik dulu.. Jeeng jeng jeng.. XD

Yang pasti juga, dia yang bakal jadi jodoh saya kelak, pasti udah yang terbaik Allah kirimkan buat saya di masa depan. *bijak*
Seperti ini nih

Hahaha, oke, selesai sudah tulisan gak mutu ini.
Sankyu udah dibaca dan gak muntah-muntah ya x)
Read more >>